Mengenal Apa yang Namanya Kemurnian

Judul                               : TANGO
Penulis                            : Goo Hye Sun/ Koo Hye Sun
Penerjemah                  : Dwita Rizki Nientyas
Pemeriksa Aksara      : Nur Sofiyanti
Penerbit                         : PT. Ufuk Publishing House
Tebal                               : 309
Gendre                           : Life/ Romans

Novel yang langsung booming di pasaran dan mampu terjual di atas 30.000 kopi dalam seminggu ini memang benar-benar tidak mengecewakan pembacanya. Setelah booming di negara asalnya Korea Selatan novel ini akhirnya diterbitkan kembali oleh Ufuk Fiction dalam bahasa Indonesia. Diterjemahkan oleh Dwita Rizki Nientyas ke dalam bahasa Indonesia, novel ini tetap tidak mengecewakan pembacanya.

Novel romans dengan tema percintaan mungkin sudah pasaran, namun dalam novel maha karya Goo Hye Sun menyuguhkan sesuatu yang berbeda. Bukan sekedar fiksi yang biasanya terlalu mengada-ada—di dalam novelnya Hye Sun memperlihatkan kepada kita kenyataan dunia percintaan orang dewasa.

Dari sudut pandang percintaan (tema yang begitu digandrungi) membahas kenyataan menjadi terdengar lebih menarik. Karena dalam percintaan pula kita merasakan pahit-manisnya kenyataan (bukan hanya sekedar cinta).

Kita tahu kenyataan secara garis besarnya dibedakan menjadi dua: kebahagiaan dan kesedihan. Hye Sun berhasil membuat porsi keduanya seimbang dengan begitu sempurna.

Itulah yang membuat novel ini benar-benar berbada. Menyuguhkan keyataan yang walaupun selama ini kita menjalani kenyataan itu akan tetapi kita tidak ketahui dengan pasti seperti apa kenyataan itu.

Goo Hye Sun mungkin memang lebih dikenal sebagai tokoh Jan Di dalam serial drama Korea Boys Before Flowers namun dalam novel ini anda dapat mengenal Hye Sun sebagai tokoh Yun. Terdapat dalam catatan penulis,  Hye Sun mengatakan, “Aku dapat menemukan sosokku yang lebih murni di dalam novel ini.”

“Selama aku bertemu dengan perempuan bernama Yun, aku melihat diriku di dalam dirinya, kami saling bertatapan. Perempuan ini mengatakan bahwa alasan kenapa kita berjalan tampa arah dan selalu berada dalam krisis adalah karena kita percaya kepada kemurnian, kerena kita percaya saat-saat murni di masa kecil yang sangat kita rindukan dan tak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu, kerinduan adalah sesuatu hal yang sangat indah.” Tutur Hye Sun dalam catatan penulisnya. Mungkin inilah salah-satu yang melatar belakangi Hye Sun menulis novel yang sangat memukau ini.

Pengkisahan yang Hye Sun pakai adalah dari sudut pandang orang pertama tunggal sebagai tokoh utama—Yun. Yun digambarkan sebagai seorang gadis polos yang selalu percaya akan datangnya kebahagian suatu hari nanti. Dia seorang pekerja keras yang selalu mengatur segala sesuatunya. Selama ini hidupnya selalu berjalan sesuai dengan apa yang dia atur itulah sebabnya dia tidak pernah berpikir mengenai kenyataan pahit akan menimpanya

Kang Jong Woon yang selama dua tahun ini adalah pacar, teman, dan keluarga bagi Yun. Jong Woon seorang yang realistis terhadap dunia. Dia adalah seorang yang dihantui oleh kenyataan pahit (sangat bertentangan dengan Yun) dalam kehidupannya. Karenanya sebagai pelarian dari semua itu adalah alkohol, rokok, dan kopi.

Jong Woon mencoba mengajarkan kenyataan pada Yun, karenanya dia selalu membuatkan Yun espresso yang pahit. Baginya kopi diibaratkan dengan apa yang dia yakini sebuah kenyataan.

Yun tidak pernah mengerti—tidak! Yun tidak dengan sungguh-sungguh mencoba mengerti dengan apa yang yang diajarkan Jong Woon. Sampai akhirnya hubungan keduanya berakhir.

Perpisahannya dengan Jong Woon adalah sebuah kenyataan yang paling benar bagi Yun. Yun akhirnya mengerti kini ia menyakini kenyataan yang ingin Jong Woon ajarkan kepadanya.

Tampa disadari perpisahannya dengan Jong Woon merubah Yun menjadi wanita yang realistis dan mulai mencoba mengenal alkohol dan rokok. Tidak benar-benar mengenal mamang, Yun hanya mampu mengenal alkohol dan baginya rokok benar-benar di luar jangkauan.

Di tengah kegalauannya akan kenyataan dan pemikiran yang realistis dia dipertemukan dengan seorang pria bernama Jung Min Young. Ming Young menawarkan kehidupan yang serba berkecukupan dengan kekayaannya lebih-lebih dia juga melamarnya. Begitu sempurna menurut pemikiran realistis Yun.

Namun Yun tidak menerima atau menolak lamaran tersebut. Yun hanya mengulur waktu untuk mempertimbangkannya. Sementara itu datang kembali seorang lelaki dalam kehidupannya—lelaki tersebut adalah Si Hoo.

Si Hoo adalah lelaki yang masih dapat menerapkan konsep “kemurnian” dalam hubungan antar manusia. Dia dapat memperlakukan orang lain dengan murni, tampa mengharapkan atau menantikan apa-apa. Dia memperlakukan Yun seperti itu.

Kehadiran sosok Si Hoo perlahan mengubah kehidupan Yun. Si Hoo telah membantunya untuk mengendalikan ledakan besar—akibat perpisahannya dengan Jong Woon. Ledakan yang dapat menghancurkan diri Yun.

Walaupun pada akhirnya Si Hoo juga harus pergi untuk selama-lamanya. Berbeda dengan perpisahannya dengan Jong Woon, Si Hoo membuatnya dapat hidup lagi apapun alasannya. Berkat dia Yun dapat menerima kerumitan dan kekacauan yang terjadi di kehidupannya. Saat-saat bersama Si Hoo lah Yun dapat merasakan apa itu kenyataan dan kemurnian yang hakiki.

Cerita sederhana namun disajikan dengan begitu kompleks, klimaks yang mantap dan akhir yang begitu tak terduga. Goo Hye Sun telah berhasil membuat pembacanya ikut terhanyut dan merasakan emosi seorang tokoh bernama Yun.

Rasa pahit kopi. Orang yang membuat kopi tidak akan pernah tahu itu. Orang yang tidak pernah mau mencoba meminum kopi juga demikian. Mereka tidak akan pernah tahu ketika rasa pahit yang semakin lama terasa tidak asing ini berubah menjadi manis. Kurang lebih itu adalah gambaran kecil dari gejolak emosi Yun.

Bukan hanya emosi tokoh utama digambarkan dengan diksi yang begitu apik. Ilustrasi langsung buatan tangan Goo Hye Sun tidak kalah memanjakan mata. Poin plus lainnya adalah ilustrasi ini benar-benar mewakili emosi tokoh yang tengah dialaminya.

Ilustrasi dari novel Tango ini sekaligus mengilhami pameran lukisan pertamanya pada Juli 2009 di galeri La Mer Insadong, Seol.

Kendati memiliki diksi dan ilustrasi yang oh-so-awesome masih ada sesuatu hal yang sedikit menjanggal … judulnya. Awal ketika melihat judulnya—TANGO—sempat terlintas dipikiran saya ini adalah sebuah cerita yang akan berhubungan erat dengan tarian yang sangat sensual dan romantis. Apalagi didukung dengan sinopsis yang memang menggambarkan cuplikan pasangan yang akan menari tango.

Saya benar-benar dikibuli. Setelah saya baca sampai selesai porsi untuk menceritakan tentang tango itu sendiri tidak sampai seperempat dari cerita. Bahkan porsinya sama seperti penggambaran espresso dalam novel ini.

Hal menarik lainnya yang membuat ingin membaca novel ini tentu saja cover-nya. Yakin bagi yang menyukai hal-hal berbau Korea maupun penyuka drama Korea Boys Before Flowers akan memiliki ketertarikan lebih hanya dengan melihat cover-nya saja.

Jujur memang tidak begitu memperhatikan typo (kesalahan penulisan) yang terdapat pada novel ini. Sejak awal pembaca telah dituntun untuk menikmati ceritanya bukan sekedar tulisannya yang memang sudah begitu apik.

Beberapa kesalahan yang dapat ditemukan: halaman 145, “Aku langsung ke ruang tamu setelah menyelesaikan pembicaraan sederhana dengan Mi Young di telepon.”—harusnya ditelepon ; halaman 231, “Bisakah hubungan kami tetap harmonis seperti ini walau beberapa tahu telah berlalu?”—harusnya tahun, kan? ; halaman 267, “Min Young mengatakan bahwa dia datang ke sini dengan hari yang senang.”—harusnya hati, kan?

Terlepas dari kekurangan yang tidak terlalu fatal tersebut. Novel karya Goo Hye Sun ini memang pantas dinikmati bersama secangkir espresso hangat. “Buku ini akan membuat lengket siapapun yang membacaya. Read it and feel so tango!”—Lia Indra Andriana, Penulis SeolMate.